Kamis, 11 Desember 2014

Ekspresif di Dunia Maya, Tahan Dulu


"Kuncinya media sosial adalah media publik yang sifatnya terbuka, bukan lagi sebagai ruang privat. Dengan konsep ruang publik, siapa pun yang bertindak memiliki dua konsekuensi, yakni sosial dan hukum," jelas Nukman


        Pengembangan aplikasi jejaring sosial saat ini memang selalu diiringi dengan tawaran berbagai fasilitas bagi pemilik akunnya. Kemudahan berinteraksi yang merupakan ciri utama media generasi baru ini pun, sebagaimana yang dilansir oleh Melekmedia.com (21/12/2010), mengindikasikan bahwa setiap orang memiliki hak untuk menyebarkan informasi. Bahkan ungkap situs di bidang pendidikan literasi ini lebih lanjut, setiap orang bisa menjadi sumber informasi, sehingga tanggung jawab atas keakuratan informasi itu ada pada individu, sang penyebar informasi. 

    Namun, masih menurut Melekmedia.com, sejumlah kalangan masih belum dapat memanfaatkannya secara bijak. Pasalnya, tak sedikit masyarakat yang kini tampak masih sulit membedakan antara media sosial sebagai ruang publik atau ruang privasi. Sementara media sosial sejatinya merupakan ruang publik untuk saling berbagi informasi. 

    “Kalau Anda memang bermain dengan teknologi ini (media sosial), maka terimalah kenyataan bahwa Anda sedang berada dalam satu ruang bersama-sama orang lain, bukan saja di Indonesia, tetapi seluruh dunia. Artinya, Anda sedang berada di ruang publik, sekecil apapun ruang itu," tulisnya. 

     Penekanan media sosial sebagai ruang publik juga disampaikan oleh praktikus media sosial, Nukman Luthfi, dalam diskusi "Trial by SocialMedia" yang digelar di Restoran Merah Delima, Jakarta Selatan, sebagaimana yang ditulis oleh Tempo.co (24/09/2014). Pada saat itu, ia mengungkapkan perlunya kehati-hatian ketika beraktivitas di dunia media sosial. "Kuncinya media sosial adalah media publik yang sifatnya terbuka, bukan lagi sebagai ruang privat. Dengan konsep ruang publik, siapa pun yang bertindak memiliki dua konsekuensi, yakni sosial dan hukum," jelas Nukman. Sehingga, jelasnya lebih lanjut, konsekuensi penggunaan media sosial harus dipahami agar penggunanya lebih berhati-hati dalam pembuatan dan penyebaran informasi. 

        Maka, masih menurut Nukman, posting dan penyebaran informasi yang ceroboh hanya akan merugikan diri kita sendiri. “Kecerobohan yang dilakukan di ruang virtual itulah yang memicu munculnya aksi perisakan (bullying) kepada seseorang” tandasnya. 

    Pernyataan Nukman pun sejalan dengan realita yang ada, dimana kecerobohan mengakibatkan perisakan di media sosial ini juga pernah dirasakan oleh Florence Sihombing pada akhir Agustus lalu. Mahasiswa S2 Kenotariatan UGM yang mendadak terkenal ini menjadi bulan-bulanan netizen lantaran komentar yang ia tuliskan di akun Path miliknya dinilai telah menghina warga Yogyakarta

   Tulisan tersebut, berawal dari keengganan Florence untuk mengantre di SPBU Lempuyangan. Saat itu, Rabu (27/8/2014), kelangkaan premium memang masih terjadi di Yogyakarta. Situasi ini kemudian memaksa warga terutama pengguna sepeda motor untuk antre selama berjam-jam guna mendapatkan bahan bakar. 

       Karena panjangnya antrean sepeda motor, Florence yang saat itu hendak mengisi bbm motornya dikabarkan memilih untuk menyerobot antrean dengan mengambil posisi terdepan di antrean khusus roda empat yang tengah mengisi bahan bakar jenis pertamax. Disana, ia meminta petugas untuk mengisi tangki motornya dengan bbm non subsidi itu. 

     Sontak, aksinya menyerobot antrean ini membuat warga menyorakinya. Hal tersebut diungkapkan oleh Hendra Krisdianto, fotografer Tribun Jogja yang saat itu berada di SPBU, sebagaimana yang dikutip oleh Kompas.com, Kamis (28/8/2014). 

      Menyadari permintaan Florence yang tidak benar, petugas SPBU kemudian meminta Florence untuk ikut mengantre bersamaan dengan pengendara motor lainnya. Kesal mendapat perlakuan tersebut, Florence pun berajak pergi. Namun, permasalahan kemudian melebar lantaran kekesalan tersebut diluapkan oleh Florence melalui sejumlah tulisan bernada menghina di akun Path miliknya. “Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal Jogja," tulis gadis yang akrab disapa dengan panggilan Flo ini. 

     Tak hanya itu, Florence juga sempat menulis bahwa perlakuan yang ia terima merupakan bentuk dikriminasi terhadap dirinya. “Orang Jogja B******. Kakak mau beli Pertamax 95 mentang-mentang pake motor harus antri di jalur mobil terus enggak dilayani. Malah disuruh antri di jalur motor yang stuck panjangnya gak ketulungan. Diskriminasi. Emangnya aku gak bisa bayar apa. Huh. KZL," tulis Florence menjelaskan jawaban dari pertanyaan akun Rachel. 


Capture tulisan Flo yang dinilai telah menghina Yogyakarta. Sumber: Kompas.com.



       Tulisan tersebut kemudian di-capture oleh salah seorang teman Florence dan diunggah hingga menyebarluas ke media dan jejaring sosial lainnya. Saat di-capture, tulisan Florence ini telah dilihat oleh 86 teman Path-nya. Sebelas orang teman diantaranya memberikan emoticon sedih, kaget, senyum, dan juga tertawa. 

    Beredarnya capture-an tersebut ternyata diikuti dengan amukan netizen yang tersinggung dengan tulisan Florence tersebut. Mereka pun kemudian mem-bully pemilik akun @florencje_ ini dengan sejumlah komentar pedas. Berikut adalah sejumlah komentar yang dilayangkan pengguna media sosial sebagaimana yang ditulis oleh Merdeka.com, Kamis, (28/8/2014). 

"Mbak florence pernah kejedot di tugu jogja belum sich??? Ihhhh gemessss....gemeeesss," tulis akun Mamexz_Bastard, @CasualsFreaks, Kamis (28/8).
"Namanya Florence-dia nulis spt ini tentang orang Jogja..semoga gak ketemu saya di jalan ya..tak sempal ndasmu thu," tulis akun rovitavare, @tavare24karat.
"Banyak yg mencintai jogja kan ya, makanya satu org yg ngatain jogja, semua pada maju. Oo dasar florence, kuliah si S2 UGM eh tapi mulutnya," tulis Ulvah, @ulpainaya. 
       Tak hanya itu, netizen juga membentuk: tagar #UsirFlorenceDariJogja yang kemudian banyak memperoleh dukungan hingga sempat menjadi trending topic dunia nomer delapan, fanspage “Usir Florence dari Jogja” di facebook, dan ragam posting-an meme. 

       Tak tahan memperoleh umpatan, diketahui akun media sosial twitter dan facebookmilik Florence pun sudah tak lagi aktif. Namun, bully-an tersebut ternyata tak hanya ditujukan pada Florence saja. Sebab, situs www.notariat.hukum.ugm.ac.id pun juga tak luput dari amukan hacker yang menamai dirinya “Vonismati.” "Sekolah tinggi2 tapi otak gak dipake, ini bedebah kuliah difakultas ini kan??!!" tulis Vonismati di halaman utama situs tempat Florence menempuh studi S2-nya itu. Capture halaman Path Florence yang merendahkan Kota Jogja juga ditampilkan dihalaman utama website tersebut. 

     Tidak hanya netizen, dosen Fakultas hukum UGM Haribertus Jaka Triyana A melalui akun Facebook pribadinya menyayangkan tindakan Florence pada akun jejaring sosialnya. "seluruh mahasiswa FH UGM, tolong hati2 dlm bicara. Sanksi akademik akan dikenakan kepada Anda jika bicara Anda ngawur dan merendahkan harkat dan martabat Orang lain dan pihak lain. Tunggu sdri FS, Mhs MKN ...temuan akan kami tindak lanjuti", tulis Haribertus pada halamanFacebook, Kamis, (28/8/2014). 

    Selain komentar negatif, tidak sedikit pula masyarakat yang menaruh sikap iba atas komentar-komentar pedas yang didapatkan Florence. Salah satunya adalah komentar dari budayawan, Butet Kertaradjasa. "Saya yakin masyarakat Jogja sendiri, atau saya sebagai bagian masyarakat Jogja tidak merasa dirugikan, sakit hati atau direndahkan hanya gara-gara diomelin gitu," tegas Butet Kartaredjasa saat sebagaimana yang dikutip Kompas.com pada Minggu (31/8/2014). 

   Serangan balik yang dilakukan masyarakat bahkan sangat disesalkan oleh sahabat Florence, karena dirasa sebagai tindakan bullying. Rachel, sahabat Flo yang juga berkomentar di status kontroversial Florence meyanyangkan kecaman yang dianggap berlebihan dari netizen, "Kemarin sih masih normal-normal aja ya di Path, tapi menurut gue sekarang ini bully-nya makin lebai, bahkan ada yang jadiin parodi? Biar apa? Ini sama sekali nggak lucu, lho.” ujarnya seperti dikutip dari Merdeka.com, Kamis (28/8/2014). 

      Tidak hanya Butet dan Rachel, Aan, seorang mahasiswa Psikologi UNY, juga turut iba melihat cercaan yang dilontarkan kepada Florence. "Kasihan mas. Orang yang sedang kesal bilang kasar. Apalagi antrean BBM panjang sekali. Manusiawi itu mas. Kalau gara-gara itu lantas di-bully se-Indonesia ya namanya tidak adil mas. Malah saya sebagai warga Jogja merasa malu kalau sampai jadi kasar semua." ujar Aan dikutip dari Jogjareview.net, Sabtu, (30/8/2014). 

   Meskipun telah memperoleh sanksi pendidikan dan sanksi sosial, Florence pun selanjutnya harus berhadapan dengan sanksi hukum telah menunggunya. Sebab atas ucapannya itu, Florence kemudian dilaporkan ke pihak berwajib oleh LSM Jati Sura. LSM Jati Sura ini menganggap ucapanya itu tidak hanya sekedar omelan melainkan merupakan sebuah tindak pidana, sebagaimana yang ditulis oleh Tribun Jogja, Rabu (3/9/2014). 

     Sementara itu, untuk menghindari dampak buruk akibat penggunaan jejaring maupun media sosial yang tidak dengan bijak dimanfaatkan, Presiden AS Barack Obama telah lama meminta masyarakatnya untuk berhati-hati ketika beraktifitas dengan media sosial. Dikutip dari Okezone.com (09/09/2009) pada kunjungannya ke sebuah sekolah di wilayah Arlington, Virginia, Obama saat itu menasihati para siswa di sekolah tersebut agar berhati – hati memasang status update dan menampilkan profil diri mereka pada jejaring sosial facebook dan twitter. 

      “Saya telah sering mendengar banyak anak muda yang memposting informasi aneh dan asal – asalan pada facebook mereka. Ketika tiba – tiba mereka melamar pekerjaan, perusahaan yang dilamar mencari tahu lebih banyak kepribadian anda melalui facebook,” jelas Obama. 

     Maka belajar dari kasus Florence, kehati – hatian dalam memposting itu juga harus diperhatikan oleh masyarakat Indonesia. Sebab, masyarakat Indonesia masih rendah literasi media. Hal ini diungkapkan oleh pengamat media sosial, Wicaksono seperti yang dilansir dari Bbc.co.uk, (31/8/2014). Menurutnya masyarakat Indonesia masih menyukai budaya klak–klik tanpa berpikir panjang mengenai konsekuensinya. "Pengguna media sosial di Indonesia saat ini cenderung ‘melebih-lebihkan’, ‘ingin tahu urusan orang lain’ dan ‘suka memprovokasi’ atas sebuah masalah. Nah, tiga hal ini membuat pengguna media sosial harus berhati-hati, karena ketiganya bisa memicu sebuah isu menjadi bola liar yang akan merugikan siapapun," jelasnya. 

      Turut menyikapi perilaku netizen Indonesia pula, politisi DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional, Andi Taufan Tiro dalam Kompasiana (3/11/2014) justru berpendapat bahwa, “Masyarakat Indonesia termasuk dalam golongan lowbrow, yakni kalangan bawah, yang menggunakan media (sosial) benar-benar sebagai alat pemuasan diri. Mereka adalah kebanyakan orang-orang kalah, gagal, dan frustrasi. Merasa dunia ini tak adil, kejam, dan dirinya kurang beruntung. Mereka juga terlalu banyak punya waktu luang, karena pekerjaan yang tak jelas. Tak ada kebutuhan di kalangan ini untuk adu gagasan, bertukar ide, atau memperjuangkan nilai-nilai positif.Isi otak mereka tak sampai ke situ.” jelasnya. 

       Sementara itu pandangan berbeda justru dilontarkan oleh Anies Baswedan yang saat itu menjabat sebagai Deputi Kesra Tim Transisi pemerintahan Presiden dan Wakil Jokowi-Jusuf Kalla, Anies Baswedan. Dikutip dari Antaranews.com, (4/11/2014). Ia mengatakan bahwa anak muda dapat menjadikan media sosial seperti facebook tidak sekedar untuk merawat teman-teman masa lalu, tapi juga untuk meluaskan jaringan ke seluruh dunia untuk mendukung masa depannya. Ia juga menambahkan bahwa hal itu harus dibarengi dengan pendidikan literasi media. "Internet dibaratkan sebuah mobil, supirnya adalah manusia. Dengan pendidikan dan edukasi untuk memaksimalkan internet maka internet bisa mendorong perubahan sosial di masyarakat," tambah Anies. (Arkhan Faturahman, Cinthya Putri Sari, Dita Prima Juwita)

0 komentar:

Posting Komentar