Budaya jam karet di Indonesia kini semakin populer dari waktu ke waktu. Membuat rundown acara menjadi 30 menit bahkan satu jam lebih lama dibandingkan waktu yang telah ditentukan, nampak menjadi hal yang tidak dapat dihindari bagi kebanyakan penyelenggara acara. Di sela waktu yang sengaja dibuat molor ini, penyelenggara acara biasanya melakukan sejumlah persiapan matang, sekaligus menunggu mereka yang datang terlambat karena menganggap acara tidak akan berlangsung tepat waktu.
Bahkan budaya jam karet di Indonesia juga semakin populer di kalangan masyarakat internasional. Hal ini tercermin dari pernyataan pakar komunikasi internasional Richard D. Lewis (1996) dalam bukunya When Cultures Collide yang mengatakan bahwa ketepatan waktu tidak dirisaukan dan orang Indonesia tidak suka dikejar-kejar waktu.
Selain itu dalam sebuah wawancara bersama pelajar SMA asal negara bagian North Carolina, AS, yang mengikuti program Youth Exchange and Study (YES) dengan Indonesia, situs berita onlineVivanews tak tanggung-tanggung menuliskan judul:Di Indonesia, Siswa Amerika Belajar Jam Karet.
Atau pada level hirarkis atas, yakni dalam banyak kesempatan rapat DPR sering tidak berjalan tepat waktu karena anggota yang hadir pada waktu yang telah ditentukan belum memenuhi kuorum. Mau tidak mau, rapat baru dapat berjalan usai menunggu anggota DPR lain yang datang terlambat. Ini semua adalah citra yang buruk bagi bangsa kita yang seharusnya dijadikan cerminan untuk merubah kebiasaan ini menjadi lebih baik.
Merujuk pada berbagai kegiatan di Perguruan Tinggi, nampak tak mau ketinggalan, ia juga masih menganut pola kebiasaan jam karet yang sama. Seperti dosen yang datang mengajar tidak tepat pada waktunya, mahasiswa datang terlambat dalam perkuliahan, atau pun seminar-seminar yang sering molor dari ketentuan jam pelaksanaan, dan sebagainya.
Idealnya, Perguruan Tinggi yang menjadi wadah lahirnya calon profesional dunia praktis tidak seharusnya mereproduksi kebiasaan buruk ini. Sebab, pelan namun pasti, kebiasaan jam karet ini berdampak pada menurunnya produktifitas secara signifikan sekaligus merugikan.
Perhatikan saja.Saat ini kita tengah hidup dalam kepungan inovasi global yang terus bermunculan dalam kecepatan yang sangat tinggi dan menuntut setiap individu untuk bersaing dan tidak lelet, tentu setiap detik menjadi waktu yang sangat berarti dan perlu dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Namun, Perguruan Tinggi yang kerap menyebut dirinya sebagai penyelenggara pendidikan dan penelitian yang mengarah pada temuan baru di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan sebagainya itu,mayoritas warganya justru tidak pernah secara serius memberi perhatian pada permasalahan ini.
Adanya sikap menyepelekan komitmen waktu bersama, santai, memaklumi, dan ditambah lagi adanya pembiaran justru menjadikan budaya jam karet ini cenderung terfasilitasi hingga mengakar kuat dan menjadi kebiasaan yang tidak terpisahkan dalam lingkungan kegiatan di Perguruan Tinggi. Maka tantangan bagi Perguruan Tinggi yang juga diharapkan mampu menghasilkan output yang berdaya saing dan memadai guna perbaikan taraf hidup, agaknya masih berkutat pada hasil yang kurang maksimal. Bahkan untuk hasil yang belum maksimal saja, membutuhkan waktu yang lama.
Maka jika kita menengok Times Higher Education yang pada awal bulan Oktober 2013 lalu mengumumkan kelompok World Class University dan tak mencatat satu pun nama-nama universitas di Indonesia yang sejatinya telah banyak diantaranya berusia lebih dari setengah abad, namun justru mencatat universitas muda yang usianya baru 20 tahun, seperti Nanyang Technological University (NTU, Singapura), dan Koc University (Turki) ke dalam urutan universitas kelas dunia, bukan tidak mungkin kesetiaan Perguruan Tinggi di Indonesia pada kebiasaan jam karet menjadi salah satu penghambat Perguruan Tinggi kita untuk mencapai peringkat tersebut. Untuk itu, memulai langkah kecil salah satunya dengan menanggalkan kebiasaan jam karet sudah saatnya menjadi bagian dalam aktifitas Perguruan Tinggi. (Ditulis oleh Cynthia Putri S, mahasiswa Ilkom FISIP Univ. Sebelas Maret Surakarta)