Suporter sepakbola di negeri ini tidak pernah lepas dari stigma negatif. faktor labelling, partisipasi media, dan latar belakang dari masing-masing individu dari mereka adalah komponen pembentuk perilaku dari kelompok suporter tersebut.
| Pasoepati, Supporter Militan Kebanggan Persis Solo |
Hakikat suporter adalah kerumunan di mana kerumunan tersebut diartikan sebagai sejumlah orang yang berada pada tempat yang sama, adakalanya tidak saling mengenal, dan memiliki sifat yang peka terhadap stimulus (rangsangan) yang datang dari luar (Soeprapto, 2010).
Perilaku negatif suporter cenderung mengarah kepada perilaku yang destruktif, yakni pengrusakan fasilitas umum (fisik) – perilaku anarkis seperti tindak kekerasan atau tawuran antar suporter, bahkan aksi konvoi yang sering mengganggu dan melanggar peraturan lalu lintas. Hal ini akan merugikan banyak pihak terutama adalah citra identitas diri mereka. Otoritas operator penyelenggara kompetisi memiliki regulasi-regulasi tertentu terhadap pelaksanaan liga sehingga apabila suporter melakukan pelanggaran yang mencederai regulasi PSSI maupun FIFA maka klub yang mereka bela juga tidak luput dari sanksi. Sedangkan faktor non fisik akibat perilaku negatif dari kelompok ini adalah berupa rasa takut maupun kecemasan dari masyarakat sekitar terhadap kehadiran suporter. Berikut hal ini dianggap menjadi permasalahan sosial dan tak luput dari perhatian media. Ya, dalam beberapa kajian ilmiah dan ulasan pemberitaan di media, seringkali perilaku supporter sepakbola dianggap sebagai perilaku menyimpang atau antisosial. Dikarenakan beberapa hal tersebut akhirnya suporter sepakbola mendapatkan labelling stigma negatif dari masyarakat.
Lisa A Lewis dalam (Adoring Audience: Fan Culture and Popular Media: 1992), menyatakan bahwa, “The popular press, as well, has stigmatized fandom by emphasing danger, abnormality, and sillines.” Merujuk apa yang dikatakan Lisa, dijelaskan bahwa stigma supporter sepakbola yang berkembang tidak terlepas dari pengaruh media yang cenderung memberitakan suporter sepakbola dalam perspektif negatif yakni sebagai suatu hal yang menyimpang, anarkis, berbahaya, dan asosial. Penilaian negatif tentang suporter sepakbola seakan tidak pernah bisa hilang bahkan kelompok yang selalu mengenakan atribut kebanggaan klub mereka ini telah mendapat label sebagai sesuatu yang di pandang negatif di mata masyarakat. Seperti yang kita ketahui bahwa labelling adalah sesuatu yang sangat merugikan ’subjek’ di mana subjek tidak bisa membantah atau menyanggah atas label yang diperolehnya.
Berkaca dengan sejarah suporter mengenai kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di kancah persepak bolaan Indonesia, suporter Persib dan Persija terkenal menjadi kubu yang selalu kontra. Terakhir pada pertandingan yang berlangsung di Stadion Maguwoharjo, Sleman pada tanggal 28 Agustus 2013 juga tak luput dari teror nyanyian rasis dan kerusuhan antar The Jak (Suporter Persija) dan Viking (Suporter Persib) yang saling serang. Bahkan ketika itu, hadir Menpora Roy Suryo yang turut mendinginkan suasana dengan mengajak seluruh penonton maupun suporter yang hadir di stadion untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum kick off babak pertama. Kerusuhan antar kelompok yang beratribut orange dan biru ini berlanjut usai pertandingan yang sempat dihentikan pada 16 menit pertama ini dengan aksi melempari suporter Persib yang keluar stadion lebih dulu dengan pecahan keramik.
Flash back pada peristiwa kerusuhan yang terjadi antara Persis Solo vs PSIM yang mana dapat disebut dengan duel harga diri yang penuh aksi provokatif. Pada menit-menit awal babak pertama, terdengar teriakan dari tribun VIP tengah. Para suporter meneriaki nama Johan Arga—salah satu pemain PSIM yang tidak masuk line up, tak hanya Johan, namun salah satu wartawan asal Jogja juga kena imbas pukulan.
“Koe Wong Jogja?” Mula introgasi segerombalan suporter, “Saya wartawan, mas”. Tidak peduli dengan jawaban lelaki yang mengalungkan ID Card pers itu, oknum suporter langsung menanyai “Mana KTP? KTP mu mana?” ketika dikeluarkan tertera identitas yang berasal dari Jogja, wartawan itu pun tak lepas dari aksi amukan suporter.
Petugas kepolisian beserta panitia sigap menolong Johan dan wartawan tersebut. Saya yang berada tepat di dekat lorong keluarnya pemain, menyaksikan bagaimana aksi sweeping itu berlangsung. Wajah-wajah kebencian begitu kental terlihat dari Pasoepati terhadap segala hal yang berbau Jogja dan begitu juga sebaliknya.
Laga makin panas, karena belum reda aksi amukan tersebut PSIM lebih dulu mencetak gol pada menit ke 18 melalui tendangan keras Agung Suprayogi di luar kotak penalti. Melihat keunggulan tim lawan, sambutan suporter Pasoepati sontak menyanyikan lagu yang membangkitkan semangat pemain.
Keunggulan PSIM 1-0 berakhir sampai ditiupnya peluit oleh wasit di babak pertama. Sementara, kondisi di stadion kian . Dengan salah satu nyanyian yang agak mengecoh lawan “Solo-Jogja, kita saudara! Solo-Jogja kita saudara! Kata siapa? Dibunuh saja!” Yel-yel dari Pasoepati terus bergema selama masa jeda 15 menit itu.
Sudah bisa ditebak, kondisi mental pemain lawan pun menjadi ciut ketika aksi Pasoepati yang sesekali melempari bench pemain lawan dengan botol. Menurut regulasi, seharusnya ketika jeda pertandingan pemain masuk kembali ke ruang ganti untuk melakukan pengarahan dari coach masing-masing. Namun, untuk laga derby mataram ini, pemain PSIM melakukan pengarahan di tengah lapangan demi alasan keamanan.
Berlangsungnya babak kedua setidaknya menjadi angin segar bagi Persis Solo dan Pasoepati, permainan ketat disuguhkan antar kedua tim. Tepat pada menit 85, Persis mendapat tendangan penalty yang dieksekusi oleh Wiindu Wibowo. Skor 1-1 bertahan hingga laga yang sarat gengsi ini berakhir.
Mungkin inilah alasan kenapa stigma negatif pada suporter terus melekat. Bukan bermaksud untuk menjustifikasi Persis Solo ataupun Pasoepati, karena sadar saya pun warga Solo dan menjadi bagian dari mereka. Namun, begitu juga apa yang dilakukan di Jogja, ketika Persis Solo melakukan laga tandang, sambutan Brajamusti tak kalah garang dari Pasoepati. Sepulang dari Jogja, kawanan kelompok Pasoepati membawa oleh-oleh bandeman batu yang dilempar ketika mereka melakukan perjalanan pulang di sekitar wilayah Prambanan sampai menuju Klaten, bahkan ada motor ber pelat AD yang dibakar.
Kebencian ini telah menjadi tradisi. Etika di mana harus memperlakukan kelompok suporter lain secara manusiawi tidak begitu dihiraukan.
Menelisik pada persepektif disorganisasi sosial, perilaku anarkis suporter sepakbola ini memang merupakan sebuah masalah sosial, yang mana dalam sebuah sistem yang terkandung strukur nilai, norma, aturan, dan tradisi yang dijadikan pedoman untuk melakukan tindakan atau aktivitas ini maka dapat ditarik disimpulkan bahwa perilaku anarkis suporter sepakbola merupakan sebuah pelanggaran terhadap sistem di masyarakat sehingga terjadilah kondisi disorganisasi sosial.
Dianalogikan dari pernyataan Machiavelli–kekerasan menjadi absah untuk mempertahankan ancaman dan dapat dipraktekkan oleh penguasa. Mungkin sepakbola kita sedang menuju kearah teori ini. Manakala tim kebanggaan mereka dirasa mendapatkan perlakuan tidak adil oleh wasit atau dilanggar oleh pemain lawan ketika berlaga di lapangan, sontak saja aksi amuk suporter siap meneror jalannya pertandingan.
Berbicara mengenai fanatisme, suporter merupakan kelompok yang fanatis dengan hal-hal yang menguatkan identitas mereka. Hal ini menyangkut kecintaan yang berlebih terhadap suatu klub sehingga hal-hal yang dirasa menganggu apa yang mereka cintai, maka akan mendapatkan perlakuan yang destruktif dari kelompok suporter tersebut.
Kecintaan yang lebih adalah faktor dari hampir semua itu. Kekhasan untuk menggambarkan manusia dalam persepektif cinta memberikan kesan filosofi yang mendalam bahwa kehidupan seni mencintai (the art of loving). Maka dengan cinta manusia sangat mengerti sifat dasar manusiawinya, yaitu letaknya sebuah kasih sayang. Dan sebaliknya, dengan cinta pula manusia berubah menjadi sadis, ambisius, dan bahkan mematikan (Bambang, 2006).
Tidak melulu tentang hal yang negatif, di lain hal suporter juga merupakan kelompok yang terintegrasi antar anggota (secara intern). Sikap loyal antar anggota yang memakai atribut yang sama walaupun tidak saling mengenal dapat dikatakan sangatlah kuat, misal suporter Persis Solo yang dijuluki Pasoepati apabila melakukan tour tandang ke Kediri, maka kelompok Pasoepati Kediri akan menyambut baik kedatangan mereka bahkan tak sedikit yang mau memberikan tumpangan untuk menginap. Begitu juga apabila salah satu diantara mereka mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari kelompok suporter lain, maka atas nama atribut yang sama, sikap menentang untuk membela satu kelompok begitu besar didengungkan. Lebih jauh dari itu, suporter bisa menentang regulasi yang dianggap mencederai sepakbola Indonesia, masa kepemimpinan Nurdin Halid di PSSI yang kental dengan kecurangan, korupsi, pengaturan skor, dll berhasil diturunkan oleh kelompok suporter di Indonesia yang terintegrasi dan sampai pada Kongres PSSI pada 9 Juni 2011 silam yang berlangsung di Solo, ribuan suporter berdatangan ke Kota Bengawan untuk mengawal dan mengawasi jalannya kongres.
Sepakbola Indonesia sudah saatnya bergerak ke arah pembinaan yang lebih baik, suporter sebagai ‘Pemain ke-12’ merupakan sosok penting dalam menghidupkan jalannya pertandingan dan sebagai pengawal regulasi maupun ketetapan dari manajemen maupun operator penyelenggara liga. Terkait stigma negatif yang melekat dari suporter dibutuhkan pola perilaku yang berangkat dari setiap individu untuk merubah ke arah “suporter yang dewasa” dan tidak mengalami “fanatisme buta”. Untuk merubah hal tersebut, banyak hal yang harus dilakukan, partisipasi dari media juga sangat berperan. Sikap kooperatif dari media yang memberi porsi tersendiri untuk pemberitaan berbagai hal positif dari kegiatan suporter diharapkan mampu membentuk pendapat umum dan memberi labelling mengenai citra suporter yang tidak melulu identik dengan perilaku yang negatif.
Ditulis oleh Lilis Maryati yang juga MC sepakbola Persis Solo.






0 komentar:
Posting Komentar