Senin, 29 Desember 2014

Perempuan, Manusia Kelas Dua?




       “Sudah dari sono-nya kodrat perempuan tuh begitu.” Itulah sepenggal ucapan salah satu dosen yang mengajarkan saya mengenai politik. Ya, ketika dosen saya menerangkan bahwa politik membutuhkan uang banyak dan kegiatan berpolitik tidak akan pernah bebas dari money politics, beliau yang terhormat juga menjelaskan secara tersurat bahwa salah satu bentuk sogokan atau pancingan adalah wanita. Pada intinya, politik adalah harta, tahta, wanita. Sontak saya mengajukan protes keras. Mengapa harus wanita? Tak ada pilihan lainkah bagi wanita untuk dijadikan “umpan” lelaki pencari kekuasaan? Bukankan lelaki dan perempuan sama-sama berada di derajat yang sama sebagai manusia.

     Tak ada yang membedakan diantara keduanya, kodrat perempuan adalah sebagai seorang ibu dan mereka akan bahagia jika dapat melayani suaminya, bukan sebagai alat “pancing” yang seakan terlihat rendah. Tatkala, hal tersebut dapat terjadi karena kaum lelaki hanya menghargai feminimitas sebagai alat pemuas nafsu birahi saja. Perempuan memang menghendaki tubuh dan wajah yang terawat bak dewi-dewi surga, tetapi buat apa mempunyai tubuh dan wajah molek seperti bidadari surga jika hanya sebagai objek permainan laki-laki? Smeentara ia mempunyai peran lain yang lebih penting.

      Bukan dengan cara seperti itu harusnya seorang dosen “mendoktrin” mahasiswanya dengan ilmu yang dibagikan. Hal tersebut mengajarkan betapa rendahnya wanita di mata pria, yang hanya berperan sebagai manusia kelas dua. Filosofi jawa lainnya yang dipaparkan dalam Naning (2010), menyebutkan bahwa arti garwa, yang berarti istri atau suami adalah sigaraning nyawa atau belahan jiwa. Belahan jiwa di sini menandakan kesetaraan antara pria dan wanita. Hal ini menjelaskan bahwa dalam mahligai rumah tangga jangan ada kesenjangan derajat antara suami dan istri, tetapi istri tetap memiliki kewajiban sebagai seorang ibu dan istri yang harus tetap dijalankan. 

     Berawal dari adanya pandangan manusia kelas dua, setelah lelaki maka muncullah gerakan feminimisme. Banyak jenis dari gerakan ini yang pada akhirnya melenceng dari kodrat kewanitaannya. Hal serupa merupakan kesalahan yang fatal untuk membuat suatu bentuk perubahan, karena menyalahi hak pemberian Tuhan. Namun, beberapa tokoh kaum Feminis Liberal, feminisme ini digerakan oleh Mary Wollstonecraft pada akhir abad ke-18, seperti Margaret Teacher dari Inggris, Indira Ghandi dari India, Benazir Bhutto dari Bangladesh, Corry Aquino dari Filipina, Evita Peron dari Argentina, hingga Megawati Sukarno Putri dari Indonesia berjuang keras untuk mempunyai hak dalam bidang ekonomi, politik, sosial budaya, lingkungan hidup, kebudayaan, dan bidang sosial lainnya layaknya kaum lelaki. Perjuangan ini lah yang harus terus dijalankan oleh kaum wanita demi hak-haknya. Tetapi di sisi lainnya, mereka tetap harus berbahagia akan kodratnya mempunyai anak, menyusui dan merawat anaknya, serta melayani suami.

Ditulis oleh Ade Retza Arientika C. N., mahasiswi Ilmu Komunikasi UNS.

0 komentar:

Posting Komentar