Senin, 29 Desember 2014

Merias Wajah Politik

     Keberhasilan gerakan mahasiswa menumbangkan otoritarianisme Orde Baru adalah salah satu momentum besar bukti keterlibatan mahasiswa mengkawal terwujudnya janji kemerdekaan. Bertolak dari momentum ini, setidaknya terlihat bahwa mahasiswa merupakan entitas yang patut diperhitungkan ketika beraksi atas nama rakyat. Selain itu, pandangan yang menyatakan bahwa mahasiswa adalah parlemen jalanan yang vocal mengumandangkan perubahan juga masih melekat pada sosoknya. Sekalipun, harapan progress pada perubahan memang tidak mudah diwujudkan. Terlebih hipermodernitas kini telah menyeret hedonisme untuk tampil dominan di panggung politik Indonesia. Ia menguliti habis elite-elite yang menyumpal sumpah melayaninya dengan perilaku korup.



     Buruknya percaturan politik seperti ini, pada akhirnya justru membuang jauh-jauh optimisme sebagian banyak mahasiswa untuk berperan membangun negerinya sendiri. Sehingga aktifitas mahasiswa yang idealnya berkutat pada studi sekaligus kemasyarakatan – yang sejatinya telah terangkum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi – semakin jauh dari realisasinya. Dalam situasi tersebut, proses perkuliahan berorientasi sosial cenderung terganti oleh orientasi pribadi. Pragmatisme akibat kepungan globalisasi pun turut mendorong lahirnya situasi mengkhawatirkan tersebut. Maka, kontribusi mahasiswa membangun negeri sepertinya tengah berada di persimpangan jalan; memang masih ada segelintir mahasiswa yang optimal secara akademis, meleburkan dirinya bagi masyarakat, sekaligus dapat mengatur diri untuk tidak kebablasan mengarungi arus zaman. Namun, mereka ini juga belum secara signifikan menjadi inisiator dan inspirator perubahan. Sedangkan sisanya masih apatis, bahkan pesimis.

     Jika menengok kondisi politik, boleh-lah rasa kecewa itu mampir di dada rakyat Indonesia, termasuk mahasiswa. Namun, politik tidak akan selamanya memuakkan, karena peranan mahasiswa bisa merubahnya. Terlebih, dibukanya kran arus demokrasi tentu semakin menguntungkan posisi mahasiswa. Maka sebagai seorang civitas akademik, dengan segala daya juangnya mahasiswa dapat mengedukasi rakyat agar tidak terlibat dan mendukung politik uang, korupsi dan segala jenis turunannya. Mahasiswa juga dapat bekerjasama dengan berbagai elemen untuk melakukan fungsi pengawasan terhadap aktifitas politik dalam maupun luar negeri. Sehingga sekali saja terjadi pembelokan terhadap tujuan negara, mahasiswa dapat menguasai permasalahan dan mampu melahirkan aksi pemecahan masalah yang sesuai.

      Bukan tidak mungkin jika mahasiswa bersedia merefleksikan perjuangan para seniornya terdahulu, mereka akan mampu menarik pembelajaran untuk berdinamika membangun bangsa saat ini, terutama memerangi korupsi. Apabila mahasiswa bertahan pada kemandekan sikap optimisme yang tidak melahirkan tindakan apapun, estafet kepemimpinan tidak lama lagi akan menemui jalan buntu. Politik pun – yang identik dengan kekuasaan, menduduki kekuasaan berarti secara lebih efektif mampu mengatur kebijakan yang menentukan hidup rakyat – akan ditunggangi oleh kepentingan segelintir orang yang ingin memperkaya diri sendiri. Implikasinya, politik yang menawarkan diri sebagai salah satu jalan perubahan, wajahnya harus dirias dari politik berwajah korup menjadi politik yang beretika.

    Keberhasilan gerakan mahasiswa sudah teruji di masa lalu. Hanya saat ini, dengan mengetahui krusialnya permasalahan politik bangsa, mahasiswa perlu bersatu, menyamakan pandangan, dan menyalakan kembali kepercayaan diri masa lalu. Dengan dukungan semua pihak pula, mahasiswa idealnya mampu melakoni peran perias ini sebagai bukti baktinya membangun negeri. Belum terlambat. (Ditulis oleh: Cynthia Putri S, Mahasiswa Ilkom FISIP UNS, dan dimuat di Harian Nasional Koran SINDO, Jum'at 15 November 2013)

0 komentar:

Posting Komentar